Jumat, 12 April 2013

KELUARGAKU KAYA TAPI MISKIN


Malam itu ku dengar pertengkaran antara mama dan papa. Lagi-lagi seperti itu. Bukan main rasa sakit yang aku rasakan melihat orang tuaku tak pernah bisa akur. Celoteh tetanggapun mengiris-iris kupingku.  Saat itu aku berusia 19 tahun. Namaku Mawar. Aku kuliah di Universitas Gajah Mada. Orang tuaku selalu bilang kalau aku sudah dewasa . Dan aku  seharusnya berpikir lebih dewasa dalam menghadapi sebuah masalah. Tapi itu semua omong kosong buatku. Mama dan papa selalu bilang begitu. Tapi kelakukan mereka ibarat kucing dan tikus . Dan menurutku pikiran mereka sungguh kekanak-kanakan.
“Aku ingin cerai Pa. Terserah apa katamu, pokoknya aku ingin cerai”
“Kamu itu bisanya minta cerai, cerai, dan cerai. Tanpa berpikir panjang”
“Papa egois, tak pernah mikirin perasaan mama”
“Kamu yang egois, tak penah tahu akan kebutuhan laki-laki. Mana kewajibanmu sebagai seorang istri. Kamu selalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Itukah yang dinamakan istri yang baik?”
“Aku punya karir sendiri dan itu tak bisa aku tinggalkan. Mana pengertianmu sebagai seorang suami pa?”
“Kurangkah kekayaan, hidup mewah, yang selama ini aku berikan padamu dan Mawar?”
“Itu yang hanya bisa kamu katakan. Aku punya penghasilan sendiri. Dan aku tidak butuh uangmu. Aku hanya ingin kamu mengerti akan karirku. Itu saja, apa sich susahnya!!!”
“Tugas seorang istri adalah mengurus anak. Melayani suami. Tapi apa, apa pernah kamu seperti itu? Jangan salahkan aku kalau meniduri perempuan lain yang bisa memuaskan kebutuhan batinku”
“Terserahlah papa mau bicara apa, aku tak perduli. Ceraikan aku pa”
“Kamu tidak mikirin bagaimana perasaan Mawar jika ia tahu kalau mama dan papanya bercerai gara-gara masalah seperti ini”
“Mawar lebih baik tidak punya papa dari pada punya papa yang suka meniduri perempuan lain. Kalau kita sudah cerai, Mawar akan tinggal bersamaku”
“Tidak bisa. Ok aku setuju kita CERAI, tapi Mawar akan aku bawa. Mawar tidak pantas tinggal bersama ibu macam kamu. Ibu yang tidak bisa memberikan kasih sayang. Ibu yang tidak bisa memberikan perhatian kepada anaknya”
“OHHHHHHHHHHHHHHHH, begitu rupanya. Papa pikir kelakuan papa sangat benar sebagai seorang ayah. Ayah yang suka gonta-ganti pasangan. Dan tidak perduli sama sekali dengan perasaan istrinya”
Setelah perdebatan panjang itu, mereka pergi  entah ke mana. Sejak malam itu mereka tak pernah tidur satu ranjang. Mama tidur di kamarnya sendiri. Dan papa tidur di ruang khusus untuk tamu.
Mama dan papa selalu sibuk dengan ususannya sendiri. Jarang aku melihat mereka berada di rumah. Apalagi duduk berdua dan kumpul denganku. Itu hanya sebuah mimpi belaka bagiku karna mama dan papaku bukan seperti orang tua lain yang selalu memperhatikan anaknya. Untung saja aku ini anak satu-satunya. Dan hanya aku yang menjadi korban keegoisan mereka. Entah apa jadinya jika aku mempunyai saudara. Mungkin saja aku akan pergi diam-diam bersama saudaraku untuk mencari sosok orang tua yang kami inginkkan. Orang tua yang benar-benar sayang anaknya.
Aku bisa dikatakan anak yang paling beruntung. Hidup mewah. Apa yang aku minta selalu dituruti. Sudah jelas jika suatu saat orang tuaku mati, warisannya akan jatuh ke tangan ku. Bukan maksudku untuk menyumpahi, tapi lebih berandai-andai.  Hidupku serba berkecukupan. Tapi aku sebenarnya orang yang paling miskin se dunia. Itulah yang sering aku katakan pada si mbok Inem dan pak Weryo suaminya. Mereka yang selalu ada buatku. Bahkan mereka yang hadir di saat aku ada acara di kampus. Padahal mereka hanya pembantu di rumah. Sedangkan papa dan mama hanya bertanya sudahkah habis uangku. Jika sudah, aku bisa meminta ke kantor. Sama halnya dengan papa.
“Pa minggu depan ada seminar bagus di kampusku. Papa dan mama hadir ya J
“Papa sibuk sayang. Coba sana tanya mamamu?”
“Mama minggu depan ada arisan di kantor cabang. Papamu hanya sibuk main-main perempuan, pasti bica dicancel kesibukkannya”
“Gak usah dengerin apa kata mamamu. Ya udah nanti sama si mbok dan pak Weryo saja ya. Maafkan papa sayang, mungkin lain kali papa usahakan”
“Itu tuh yang hanya bisa dikatakan papamu. Tapi kali ini papamu benar Mawar. Untuk sementara kamu sama mereka saja. Mama juga minta maaf”
“Kalian berdua memang jahat. Benar-benar jahat. Tak tahu apa yang aku rasakan. Pa, Ma, aku ingin kalian lebih memperhatikan aku. Aku tidak Cuma butuh kemewahan. Aku butuh waktu papa dan mama. Hanya itu Pa, ma”
“Sayang, mama buru-buru. Nanti malam saja disambung lagi”
“Papa juga ada meeting  dengan klien yang penting. Papa berangkat ya”
Itulah mama papa ku yang tidak pernah mendengarkan apa yang aku inginkan. Aku merasa hidup seperti ini tak ada gunanya. Hidup tanpa kasih sayang orang tua. Hidup tanpa perhatian orang tua.
“Mbok aku tak tahan menghadapi semua ini”
“Sabar cuah ayu, pasti dibalik ini semua ada hikmahnya”
“Si mbok dan pak Weryo akan selalu menemani cuah ayu”
Si mbok memang paling jago menenangkan pikiranku. Apa yang dikatakan si mbok menancap kuat dalam memoriu. Aku nyaman sekali ketika si mbok memelukku. Menciumi rambutku. Dan terkadang memegang pipiku. Aku sangat menyayangi si mbok. Ya Tuhan andai saja mama dan papa bisa seperti si mbok dan suaminya. Pasti hidupku akan terasa menyenangkan. Pasti aku akan menemukan yang namanya keluarga harmonis, seperti yang dikatakan temannku.
Aku tahu ini hanya karna jabatan dan kedudukan, bahkan hanya gensi saja. Aku ingin semua kekayaan yang ada pada keluargaku lenap. Aku ingin hidup miskin tapi kaya akan kasih sayang dan perhatian. Aku ingin papa bangkrut. Aku ingin karirnya mama hancur. Orang boleh menganggapku sebagai anak yang tidak tahu diri. Mendoakan papa dan mamanya seperti itu. Tapi memang hanya itu yang bisa aku katakan. Aku sungguh muak.
Suatu ketika saat mama pulang dan istirahat di kamarnya. Aku meminta mama untuk sejenak mendengar apa yang aku katakan. Dan kali itu mama mau mendengarkan apa yang ingin aku katakan. Tapi saat itu mama hanya memberi waktu 15 menit. Buatku itu sudah cukup dan jarang kami lakukan.
“Mawar kamu sudah dewasa, itu kan kata mama. Ma apa aku ini anak kandungmu?”
“Iya dunk sayang, kamu ya jelas anak mama dan papa”
“Tapi kenapa mama dan papa selalu bertengkar tiap hari. Bahkan jarang pulang”
“Ini kesalahan papamu, masak disaat mama lagi cape-capeknya disuruh melayani dia. Kamu kan tahu sendiri mama banyak kerjaan”
“Tapi itukan kewajiban mama sebagai istri”
“Kamu itu sama saja dengan papa bisanya hanya menyalahkan mama”
“Papa kan sudah bekerja. Alangkah baiknya mama di rumah saja. Memperhatikan aku dan mengurus rumah”
“Di rumah kan sudah ada si mbok dan pak Weryo yang jagain kamu Mawar”
“Orang tuaku mama atau si mbok dan pak Weryo? Aku butuh mama”
“Sudah-sudah, mama ngantuk, mama capek. Tinggalin mama sendiri, mama butuh istirahat”
“JAHATTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT”
Betapa marahnya aku mendengar kata-kata mama yang menyakitkan hatiku. Menyayat-nyayat perasaanku. Aku berlari menuju kamarku dan mebuang tubuhku ke ranjang. Aku menangis sekencang-kencangnya. Ku lemparkan semua yang ada di kamarku. Aku pecahkan kaca besar di almari. Tanganku berdarah, tapi sakitnya masih melebihi sakit hatiku sama orang tuaku. Mendengar suara teriakanku, akhirnya si mbok datang dan memelukku, mengusapair mataku, dan menangis ketika melihat wajahku. Si mbok juga bersedia mengobati tanganku yang kena pecahan kaca. Meniupi tanganku dengan kehangatan seorang ibu. Sangat terlihat kalau si mbok mencemaskanku.
Tak lama kemudian papa pulang. Pak Weryo mengadu tentang kelakuanku. Tapi papa hanya tersenyum dan berkata itu hanya emosi dan kekesalan Mawar sesaat.
“Sudah Yo biarkan saja, toh nanti dia akan membaik sendiri. Kemana mamanya?”
“Sudah tidur tuan. Tadi  non Mawar mengamuk setelah keluar dari kamar nyonya”
“Sudah lanjutkan pekerjaanmu, aku akan memberi pelajaran pada istriku”
“Baik tuan”
Ku lihat papa menuju kamar mama dan membuka pintu kamar dengan keras. Aku, si mbok, dan pak Weryo ikut mengintip dari tangga sebelah kamar mama. Ku dengar dan ku lihat mereka saling menyalahkan satu sama lain. Papa memukul mama hingga mulut mama berdarah. Mama berteriak dan juga memukul balik papa. Aku hanya bisa diam. Aku ingin memisah mereka, tapi lagi-lagi si mbok yang melarangku. Tak lama kemudian mereka saling pandang, saling berdiam diri. Mereka pun merebahkan tubuhnya ke ranjang. Mereka menatap atap rumah kami, seolah-olah ada titik temu di sana.
“Cukup ini semua harus berakhir” kata mama pada papa”
“Aku juga berpikir demikian. Kasihan Mawar menjadi korban keegoisan kita”
“Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Setujuhkah kamu dengan gugatan cerai yang aku ajukan sebelumnya?”
“TIDAK. Itu sama halnya melukai Mawar. Aku ingin kamu berhenti bekerja jika kamu masih menghargai aku sebagai suamimu. Aku masih sanggup menafkahi kamu dan Mawar”
“Tidak semudah itu. Aku akan memikirkannya lagi. Aku juga memintamu untuk tidak lagi meniduri wanita lain”
“OK OK OK fine. Aku tidak akan lagi meniduri wanita lain, tapi kamu juga harus berhenti bekerja”
“Aku akan memikirkannya besok”
Setelah itu papa keluar dari kamar mama lalu berbaring di kamarnya sendiri. Si mbok dan pak Weryo pun tidur di kamar pembantu. Dan akupun ke kamarku. Saat itu dadaku sesak, aku sungguh kehabisan nafas. Aku jatuh dari tempat tidur. Aku mencoba memanggil si mbok, tapi suaraku tak sampai. Nafasku tersenggal-senggal, dadaku sakit, badanku dingin, mataku berkunang-kunang, semua jadi gelap, serba gelap.
Esok harinya, kata si mbok aku ditemukan tergeletak di lantai dengan keadaan yang memprihatinkan. Aku dibawa ke rumah sakit Medika Utama. Dokter mengklaim bahwa aku terkena penyakit jantung. Saat itu pula aku merasakan kehancuran dalam hidupku. Papa dan mamaku memelukku dan menangis. Aku meronta-ronta, aku benci dengan semua ini. Si mbok dan pak Weryo pun ikut menangis.
“Kenapa kalian menangis? Kenapa baru sekarang kalian memelukku? Kenapa ma, kenapa pa? Kenapa kalian baik disaat aku akan mati. Apa perduli kalian? Aku tak butuh dikasihani”
“Maafkan mama dan papa sayang. Kami tahu kami orang tua yang egois. Kami berdua dibutakan dengan kesibukkan masing-masing. Kami tak pantas disebut orang tua. Kamu boleh menghukum mama dan papa”
“Papa pun rela memberikan jantung papa untuk kamu Mawar asal kamu sembuh. Papa tidak mau melihat kamu sakit. Selama ini kamu sudah cukup merasakan betapa pedihnya melihat kelakuan kami. Mawar izinkan papa dan mama untuk menebus kesalahan kami. Kami berdua rela lakukan apa saja agar kamu bisa sembuh, termasuk memberikan nyawa papa dan mama buat kesembuhan kamu. Kami menyesal sayang”
“Kenapa baru sekarang ma, pa. Kenapa.....kenapa.....?”
“Maafkan kami sayang. Hati mama dan papa telah buta karena keadaan. Kami janji akan memperbaiki semua itu. Kamu maukan Mawar memaafkan kami?”
“Aku ingin kalian bersatu. Kumpul satu keluarga. Membina keluarga yang harmonis seperti teman-temanku yang lain. Aku tidah butuh kemewahan. Yang aku butuhkan perhatian dan kasih sayang mama dan papa. Terima kasih karena telah mewujudkannya kali ini. Dan aku meminta papa untuk jagain mama walaupun tidak besama aku lagi. Aku sangat senang. Akan aku kenang moment ini di surga. Kelak semoga kita bahagia di sana. Aku sayang papa. Aku sayang mama..................



Tidak ada komentar:

Posting Komentar