Jumat, 12 April 2013

CINTAKU MA TO THE TEKK


“ I have died everyday waiting for you, Darling don’t be afraid I have loved you for a thousand years …” .
Lagu a Thousand Years dari Christina Perri mengalun lembut dari ponselku, memberi isyarat bahwa ada sebuah pesan masuk. Tergopoh – gopoh ku ambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja rias. Kulihat sebuah nama “ Vino ” muncul dilayar ponsel nokia C2 – 06 ku. Tanpa banyak waktu ku touch tulisan view dilayar ponsel itu .
“ Nanti sore kita jadi pergi ke toko buku kan ? Aku jemput didepan rumah kamu pukul lima ”.
Wajahku sumringah membaca sebuah pesan singkat itu. Gara – gara acara nanti sore seharian ini aku bingung memilah – milah baju apa yang akan aku kenakan. Ya , walau acara itu hanya acara pergi ke sebuah toko buku, tetapi bagiku itu merupakan acara yang spesial. Nanti sore untuk pertama kalinya aku pergi hanya berdua saja bersama dia tanpa adanya gangguan dari sahabat – sahabatku.  Ya , inilah resiko tumbuh sebuah perasaan cinta diantara persahabatan. Sebuah persahabatan sebenarnya tidaklah pantas untuk terkontaminasi perasaan cinta. Tapi siapa yang tahu ? Cinta datang dimanapun tanpa kita sadari, tanpa kita duga dan tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
 Sudah setahun lebih aku mengenal dia dan sudah setahun lebih aku bersahabat baik dengan dia. Dia merupakan pribadi yang unik diantara lima orang sahabat laki – lakiku. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai berniat untuk menunggunya, bahkan aku juga tidak menyadari kapan perasaan cinta itu muncul. Yang aku tahu, semuanya terasa indah saat sedang bersamanya, walau hanya dalam diam.
~****~
Berkali – kali kupandangi wajahku di depan cermin. Ingin sekali aku bertanya pada cermin tentang dandananku pada sore ini. Tapi aku masih waras, cermin tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan konyolku. Aku berlari keluar kamar dan bergegas menemui ibuku yang lagi asyik melihat gosip – gosip terbaru dari artis Indonesia saat ini.
“ Bu, apakah ada yang salah dengan penampilanku? ”
“ Enggak kok, memangnya kamu mau pergi kemana? Tumben peduli soal penampilan? ”. Pertanyaan itu membuat aku bingung untuk menjawabnya. Aku bingung harus menjawab apa, tidak mungkin aku berkata jujur kepada ibuku. Aku akan sangat malu jika ibu mengetahui bahwa aku menyimpan perasaan pada sahabatku sendiri.
“ Lho, kok diam saja, kamu mau pergi kemana? ”. Ibu mengulang lagi pertanyaanya, membuat aku sadar bahwa daritadi aku belum menjawab pertanyaan itu.
“ Oh, mau pergi ke toko buku kok. Bareng – bareng sama teman – teman, tapi nanti aku dijemput sama Vino ”. Dengan sedikit berbohong aku menjawab pertanyaan ibuku. Ada rasa mengganjal dihatiku saat aku menjawabnya. Sebenarnya aku pantang berkata bohong pada ibuku, tetapi bagaimana lagi? Aku juga belum sanggup menjelaskan hal yang sesungguhnya kurasakan kepada ibu.
Beberapa menit kemudian kudengar suara bunyi sepeda motor berhenti di depan rumahku. Kulihat dari kaca jendela tampak sosok seorang Vino telah bertengger diatas sepeda kawasakinya. Meski wajahnya tertutup oleh helm yang ia kenakan, tapi dari pawakan tubuhnya aku dapat mengenalinya dengan jelas.  Aku bergegas pamit kepada ibu dan pergi kearah Vino.
“ Hai Vin, apakah kita mau pergi sekarang? ”
“ Iya dong, mumpung masih sore. Biar nanti kita pulangnya nggak kemalaman ”.
“ Ok ! ”
Lampu – lampu kota mulai berkelap-kelip menghiasi jalan raya. Angin sore yang sejuk menghantam tubuhku. Sebersit keinginan konyol timbul dipikiranku. Melihat punggungnya yang lebar, ingin sekali aku memeluk tubuhnya. Menikmati kehangatan dalam pelukannya dan membiarkan hembusan angin sore terbengkalai karena rasa kehangatan yang melingkupi tubuhku. Tapi pikiran itu segera lenyap setiap kali aku sadar bahwa Vino bukanlah kekasihku. Dia hanya salah satu dari sahabat laki – lakiku yang lain. Dia hanya seseorang sahabat yang selalu bersikap baik kepadaku.
ii.jpg~****~
Begitu banyaknya buku dan novel tak dapat menyita perhatianku. Aku lebih suka mengamati gerak – geriknya tiap kali melihat ia mengambil dan membolak – balikkan sebuah buku.
“ Ra, kamu sudah menemukan bukunya? ”. Suara Vino menyadarkan aku dari imajinasi indahku tentang dirinya.
“ Ah belum, sepertinya bukunya ada di rak sebelah sana ”. Sahutku spontan. Aku bingung. Aku tidak ingin ia menyadari bahwa sedari tadi aku hanya mengikuti kearah mana ia berjalan. Mengikuti dan memperhatikannya sudah dapat membuat kedua ujung bibirku membentuk sebuah senyuman.
“ Oh kalau begitu mari kita mencari di rak sana ”. Sebuah tangan menggandeng tanganku yang sedari tadi tak memegang satu buku pun. Jari jemari tangan Vino bersentuhan dengan jari jemariku yang kecil . Hatiku membuncah, ingin aku berteriak teriak didalam toko buku yang lumayan besar itu. Ini sungguh terlalu bahagia. Memang benar kata orang, segala yang pada umumnya biasa – biasa saja dapat menjadi luar biasa jika di rasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta.
“ Kamu mencari buku yang berhubungan dengan kesusastraan China klasik kan? ”. Suara Vino mengagetkanku yang lagi sibuk memilah – milah buku.
“ Iya , kamu menemukannya? ”. Vino tersenyum sembari menyodorkan sebuah buku yang berjudul “ Kesusastraan China Pada Masa Dinasti Song ”. Kuhentikan aktivitasku dan menerima buku tersebut. Kubalik bagian belakang dari buku tersebut dan aku mulai membaca sinopsisnya.
“ Ini memang buku yang tepat, apalagi kamu yang membantu aku menemukannya ” , batinku dalam hati.
“ Vino selamat ya  kamu sudah membantu aku menemukan buku yang tepat ”. Aku berkata kepada Vino sambil menepuk – nepuk bahunya yang lebih tinggi dari bahuku. Kulihat tampak sebuah tawa ceria di wajahnya yang lembut. Sejurus kemudian ia membalas sikapku dengan mengacak – acak rambutku yang sudah kutata rapi, samar – samar kudengar ia berucap sebuah kata – kata yang membuatku ingin sekali terbang kelangit ketujuh.
ii.jpg“ Kamu itu lucu sekali ya Ra, apalagi tingkahmu itu ”. Kudengar kata – kata itu mengalir begitu saja dari bibirnya. Jari jemari Vino masih asyik bertengger di kepalaku. Mengacak – acak rambutku yang sudah tak rapi lagi.
~****~
Satu persatu cahaya bintang mulai bermunculan di langit. Cahaya yang putih itu sangat kontras jika disandingkan dengan cahaya bulan yang menenangkan. Di dalam sebuah tempat bernama “ warung sate Pak Mat ” aku gelisah dengan perasaanku. Ingin sekali kuutarakan semua persaan yang tersimpan selama ini kepada Vino, tapi bagiku itu sungguh tidak mungkin. Mengingat aku adalah seorang perempuan. Yang bagiku sungguh tidak pantas seorang perempuan mengutarakan perasaannya terlebih dahulu kepada seorang laki – laki. Bagiku yang dapat dilakukan seorang perempuan hanya menunggu, berharap dan berdoa semoga harapannya terkabulkan. Jadi aku hanya bisa diam, diam menahan perasaan yang terlalu memenuhi setiap ruang dihatiku.
“ Ra, sudah aku pesankan kok apa yang kamu minta ”. Vino datang dan duduk di kursi depanku. Aku berharap semoga ia tidak menyadari apa yang kurasakan saat ini. Tidak menyadari hatiku yang gelisah ingin mengutarakan perasaan cinta tapi terhalang oleh aturanku sendiri, aturan yang melarang seorang perempuan pantang mengutarakan cintanya terlebih dahulu.
“ Vin, terima kasih ya hari ini kamu bersedia menemaniku pergi ke toko buku dan menemukan buku yang aku cari. Selain itu kamu tahu kalau aku lagi lapar dan mengantarkanku ke warung sate ini ”. Aku tersenyum memandang wajah Vino. Aku berusaha menyembunyikan segala perasaanku dibalik senyumku itu.
“ Nggak apa – apa kok. Aku juga dapat ini ”. Vino menunjukkan sebuah komik Naruto Shippuden kepadaku. Komik yang sudah dari sejak dulu ia kumpulkan satu persatu serinya. Terkadang aku berfikir bahwa ada beberapa sikap Vino yang seperti anak kecil. Dia yang sangat menyukai anime Naruto. Dia yang sangat menyukai permen Yupi, bahkan dia selalu membawa beberapa permen Yupi didalam tasnya dan dia yang hobi mengoleksi mobil – mobilan. Ya , bagiku dia adalah seorang pribadi yang unik. Tapi dibalik beberapa sikap kekanak – kanakannya itu, dia juga menyimpan sikap seorang laki – laki pada umumnya, yang lebih senang begadang demi melihat sebuah pertandingan sepak bola dan sikap yang rela membiarkan tubuhnya babak belur demi membela sahabatnya.
“ Ra, kamu sadar nggak kalau kamu itu satu –satunya teman perempuan yang paling dekat dengan aku. Teman perempuan yang sangat tepat kuajak bicara setiap kali aku ada masalah. Teman perempuan yang paling bisa memahami aku dan mengerti apa mauku. Ya kamu itu orangnya ”. Aku tak menyangka Vino akan berkata seperti itu kepadaku. Aku senang. Sungguh sangat senang. Aku berfikir bahwa dugaanku selama ini benar, bahwa sebenarnya Vino juga menyimpan suatu perasaan yang sama seperti apa yang kini kurasakan. Perasaan bahwa sebenarnya dia juga menyukaiku tapi tidak bisa ia ungkapkan.
“ Sungguh? Mungkin karena kita sering jalan bareng dan kita adalah sahabat dekat sehingga kamu merasa nyaman denganku ”. Aku pura – pura tidak mengerti. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menutupi perasaanku kepadanya.
“ Iya mungkin. Ra kenapa kita tidak dipertemukan dari dulu ya? Kenapa waktu telat mempertemukan kita? Andai saja kita dapat bertemu dari dulu, mungkin sekarang kamulah perempuan nomer tiga yang paling aku cintai di dunia ini, selain ibuku dan adikku ”. Aku tersentak mendengar penjelasan Vino. Aku masih tidak begitu memahami apa maksud perkataannya tadi.
“ maksud kamu apa Vin? ”
“ Iya, andai saja dulu  aku dipertemukan dengan kamu terlebih dahulu dan tidak dipertemukan dengan Keke terlebih dahulu, pasti sekarang yang aku cintai adalah kamu, bukan Keke. Tapi ini tidak dapat diulang. Aku juga bingung mengapa hingga saat ini aku masih berharap agar Keke masih menympan perasaanya untukku. Aku juga bingung mengapa hingga saat ini aku masih tidak dapat berpaling dari bayangannya. Bahkan aku rela melakukan apa saja agar ia dapat kembali lagi kepadaku dan mengakhiri hubungan dengan kekasihnya sekarang ”. Aku kaget bukan main mendengar penjelasan Vino. Hatiku remuk seketika mendengar penjelasan pahit itu. Sekali lagi aku menelan pil pahit atas ketidakjelasan kisah cintaku. Sekali lagi aku mencintai orang yang sering memberi harapan palsu kepadaku. Sekilas muncul satu persatu kenangan – kenangan ku dengan Vino yang sudah berlalu. Kenangan saat dia rela mengerjakan semua tugas – tugas kuliahku saat aku terbaring di rumah sakit, kenangan saat dia rela menemaniku malam – malam ke perpustakaan kampus demi mencari sebuah buku dan kenangan saat ia rela melewati hujan lebat demi menjemputku yang sedang sendirian di sebuah stasiun. Air mataku ingin sekali menetes menerpa meja kecil dihadapanku. Tapi aku harus kuat. Aku tidak boleh memperllihatkan perasaan yang sesungguhnya di depan Vino.
“ Keke? Dia mantan kekasih kamu yang telah berpacaran dengan orang lain itu ? ”. Dengan perasaan yang tertekan aku berusaha merespon cerita Vino.
“ Iya Ra, daridulu hingga sekarang aku tidak dapat move on , aku masih berharap padanya ”. Kata – kata Vino semakin menjatuhkan perasaanku yang berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Sesaat aku berfikir “ Apa yang salah pada diriku? ” , mengingat dari dulu kisah cintaku tak dapat berjalan mulus. Mengingat beberapa kali aku gagal berpacaran kerena mengenal laki – laki yang suka berbohong, suka berselingkuh, laki – laki yang tak pernah lepas dari bayang – bayang mantannya dan laki – laki yang hobi memberi harapan palsu kepada setiap wanita. Oh Tuhan, mengapa kisah cintaku selalu Ma to the Tekk alias Matek. Aku mengepalkan jari jemariku, berusaha menahan amarah dan berusaha menutupi ratapan akan nasib kisah cintaku.
“ Mbak mas, ini satenya sudah datang ”. Suara pelayan warung menyadarkan pikiranku. Aku tak berani menatap wajah Vino. Aku takut. Aku benci. Aku malu. Kucoba hilangkan kegalauanku dengan mulai menyantap satu persatu sate yang bagiku terasa pahit.
“ Wah, bagaimana satenya Ra? Enak kan? Gede – gede lagi ”.
Sial ! batinku. Sepertinya Vino sama sekali tidak menyadari hancurnya perasaanku. Dia larut dalam dunianya sendiri, menikmati satu persatu sate kambing yang masih hangat. Dia sama sekali tidak peduli, tidak ada niatan untuk masuk kedalam duniaku yang sedang carut marut malam itu.
Oleh : Rafita Apriliana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar