Rabu, 03 April 2013

ANALISIS TEORI STRUKTURAL NARATIF MARANDA


CINDELARAS DAN AYAM SAKTI
Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.
Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.
Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”, kokok ayam itu
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

ANALISIS TEORI STRUKTURAL NARATIF MARANDA

ALUR CERITA
  1. Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra
  2. Selir baginda merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja.
  3. Selir baginda berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana jahat.
  4. Tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri.
  5. Baginda memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.
  6. Patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri.
  7. Patih melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh.
  8. Sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Cindelaras.
  9. Cindelaras mengambil telur dan menetaskannya.
  10. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”, kokok ayam itu
  11. Ibu Cindelaras menceritakan kepada cindelaras mengenai asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan.
  12. Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya.
  13. Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana.
  14. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra
  15. Ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja.
  16. Raden Putra  mengaku kalah.
  17. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras.
  18. Sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri.
  19. Baginda  memberikan hukuman yang setimpal pada selirknya.
  20. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya
  21. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali.
  22. Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya dengan adil dan bijaksana.


TEREM
a1= Selir Baginda
a2 = Permaisuri
a3 = Raja Putra
a4 = Cindelaras
b1 = Tabib
b2 = Patih
b3 = Ayam jantan
FUNGSI
x1 = Berencana buruk
x2 = Berkomplot
x3 = Berbohong
x4 = Menyuruh membunuh
x5 = Tidak mau membunuh
x6 = Mengadu ayam
















y2 = Melahirkan
y3 = Menetaskan telur
y4 = Bercerita
y5 = Pergi ke istana
y6 = Mengundang
y7 = Menang
y8 = Mengaku kalah
y9 = Terperanjat
y10 = Meminta maaf
y11 = Adil dan bijaksana

z1 = Memberi hukuman
z2 = Berkumpul kembali


Kode khusus N: Cerita Cindelaras dan Ayam Sakti
Alur cerita dapat digambarkan:
N= (a1)x1: (a2):: (a1)x2: (b1):: (b1)x3: (a3):: (a3)x4: (a2):: (b2)x5: (a2):: (b2)x3: (a3):: (a2)y2: (a4):: (a4)y3:: (a2)y4: (a4):: (a4)y5: (b3):: (a3)y6: (a4):: (b3)y7: (a3)y8:: (a3)y9: (b3):: (b2)y4: (a3):: (a3)z1: (a1):: (a3)y10: (a4):: {(a3)+(a2)+(a4)}z1:: (a4)y1: (a3)::
Narasi:
Selir Baginda mempunyai niat buruk terhadap Permaisuri. Selir Baginda berkomplot dengan Tabib. Tabib berbohong kepada Raja Putra. Raja Putra menyuruh membunuh Permaisuri. Patih tidak mau membunuh Permaisuri. Patih berbohong kepada Baginda. Permaisuri melahirkan Cindelaras. Cindelaras menetaskan telur. Permaisuri bercerita kepada Cindelaras. Cindelaras pergi ke istana bersama ayam jantannya. Raja Putra mengundang Cindelaras. Ayam Cindelaras menang. Raja Putra mengaku kalah. Raja Putra terperanjat mendengar kokok ayam jantan itu. Patih bercerita kepada Raja Putra. Raja Putra memberi hukuman kepada selir Baginda. Raja Putra meminta maaf kepada Cindelaras. Raja Putra, Permaisuri, dan Cindelaras kembali berkumpul. Cindelaras adil dan bijaksana mengantikan kedudukan Raja Putra.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar