Rabu, 03 April 2013

ANALISIS TEORI STRUKTURAL NARATIF MARANDA


CINDELARAS DAN AYAM SAKTI
Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.
Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.
Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”, kokok ayam itu
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

ANALISIS TEORI STRUKTURAL NARATIF MARANDA

ALUR CERITA
  1. Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra
  2. Selir baginda merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja.
  3. Selir baginda berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana jahat.
  4. Tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri.
  5. Baginda memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.
  6. Patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri.
  7. Patih melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh.
  8. Sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Cindelaras.
  9. Cindelaras mengambil telur dan menetaskannya.
  10. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”, kokok ayam itu
  11. Ibu Cindelaras menceritakan kepada cindelaras mengenai asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan.
  12. Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya.
  13. Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana.
  14. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra
  15. Ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja.
  16. Raden Putra  mengaku kalah.
  17. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras.
  18. Sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri.
  19. Baginda  memberikan hukuman yang setimpal pada selirknya.
  20. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya
  21. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali.
  22. Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya dengan adil dan bijaksana.


TEREM
a1= Selir Baginda
a2 = Permaisuri
a3 = Raja Putra
a4 = Cindelaras
b1 = Tabib
b2 = Patih
b3 = Ayam jantan
FUNGSI
x1 = Berencana buruk
x2 = Berkomplot
x3 = Berbohong
x4 = Menyuruh membunuh
x5 = Tidak mau membunuh
x6 = Mengadu ayam
















y2 = Melahirkan
y3 = Menetaskan telur
y4 = Bercerita
y5 = Pergi ke istana
y6 = Mengundang
y7 = Menang
y8 = Mengaku kalah
y9 = Terperanjat
y10 = Meminta maaf
y11 = Adil dan bijaksana

z1 = Memberi hukuman
z2 = Berkumpul kembali


Kode khusus N: Cerita Cindelaras dan Ayam Sakti
Alur cerita dapat digambarkan:
N= (a1)x1: (a2):: (a1)x2: (b1):: (b1)x3: (a3):: (a3)x4: (a2):: (b2)x5: (a2):: (b2)x3: (a3):: (a2)y2: (a4):: (a4)y3:: (a2)y4: (a4):: (a4)y5: (b3):: (a3)y6: (a4):: (b3)y7: (a3)y8:: (a3)y9: (b3):: (b2)y4: (a3):: (a3)z1: (a1):: (a3)y10: (a4):: {(a3)+(a2)+(a4)}z1:: (a4)y1: (a3)::
Narasi:
Selir Baginda mempunyai niat buruk terhadap Permaisuri. Selir Baginda berkomplot dengan Tabib. Tabib berbohong kepada Raja Putra. Raja Putra menyuruh membunuh Permaisuri. Patih tidak mau membunuh Permaisuri. Patih berbohong kepada Baginda. Permaisuri melahirkan Cindelaras. Cindelaras menetaskan telur. Permaisuri bercerita kepada Cindelaras. Cindelaras pergi ke istana bersama ayam jantannya. Raja Putra mengundang Cindelaras. Ayam Cindelaras menang. Raja Putra mengaku kalah. Raja Putra terperanjat mendengar kokok ayam jantan itu. Patih bercerita kepada Raja Putra. Raja Putra memberi hukuman kepada selir Baginda. Raja Putra meminta maaf kepada Cindelaras. Raja Putra, Permaisuri, dan Cindelaras kembali berkumpul. Cindelaras adil dan bijaksana mengantikan kedudukan Raja Putra.












STUDI KASUS BESERTA PEMECAHANNYA


STUDI KASUS APRIL
Nama : Aprilia Dwi Lestari
Tempat, tanggal lahir : Tuban, 15 Februari 1995
Sekolah : SMA N 1 TUBAN
Aprilia Dwi Lestari merupakan salah satu siswa yang baru saja beranjak dari SMP menuju SMA. Ia masuk ke sekolah ternama di Tuban, yaitu SMA N 1 TUBAN. Padahal ia berasal dari keluarga yang tergolong menengah ke bawah. Awalnya orang tua April tidak memperbolehkannya masuk ke sekolah tersebut karena takut tidak mampu untuk membayar hingga lulus nanti. Namun, April terus memaksa sehingga orang tuanya mengizinkan.
Setelah beberapa lama berada disekolah itu, ia merasa mendapat deskriminasi dari teman-temannya. Ia diejek karena berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bahkan, teman-temannya senang sekali menjahili April. Sedikit demi sedikit, April mulai merasa dikucilkan. Awalnya, ia tidak terpengaruh dan tetap berprilaku biasa. Namun, lama-kelamaan ia mulai merasa muak dengan keadaan yang ada. Perilaku teman-temannya mulai membuat April tidak fokus, dan prestasi belajarnya mulai menurun. Ini membuat April selalu stress dan merubah dirinya menjadi siswa yang amat nakal. Di kelas April selalu duduk paling belakang, suka membuat gaduh, tidak memperhatikan materi yang disampaikan guru, bermain-main HP, dan terkadang sampai tertidur. Di rumah pun ia berperilaku yang sama. Dia tidak menghiraukan nasehat orang tuannya yang menyuruhnya belajar. Dia suka keluyuran tidak jelas. April menjadi malas belajar, tidak pernah mengerjakan tugas. Suatu saat guru memberikan ulangan mendadak, ia mengerjakan sebisanya dan akhirnya mendapat nilai yang paling bawah. Saat guru tersebut bertanya mengenai materi minggu lalu, ia tidak pernah bisa menjawab. Mengetahui hal itu, April tetap tenang dan sama sekali tidak merubah kebiasaannya. Kurangnya ketegasan, bimbingan, motivasi, dan perhatian seorang guru dan orang tua dalam menyikapi anak didiknya yang bermasalah bisa menjadikan siswa menjadi nakal dan kurang bisa menghargai guru saat KBM berlangsung.

PEMECAHAN STUDI KASUS APRIL
Menurut saya pemecahan studi kasus yang dialami siswa yang bernama Aprilia Dwi Lestari ini cocok menggunakan Teori Behavioristik, yaitu sebuah teori yang segala sesuatunya dibiasakan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Jika saya menjadi guru April, maka saya akan mendekati dia (memberikan perhatian khusus), tetapi hal itu tidak diperlihatkan kepada siswa yang lain. Menegur siswa-siswa yang suka mengejek, dan suka mengucilkan. Memberikan bimbingan melalui diskusi-diskusi kecil di dalam kelas (diskuzi zigsaw), mencoba untuk mengungkapkan pendapat satu sama lain, menukar informasi dengan anggota kelompoknya. Selain itu, diawal dan akhir pertemuan selalu diadakan pengulangan materi yang berupa pertanyaan-pertanyaan atau kuis kepada masing-masing siswa, sehingga materi yang disampaikan pada saat itu maupun minggu lalu benar-benar bisa diterima dan tidak hanya pada shot term memory, tetapi juga sampai pada long term memory. Jika siswa tidak bisa menjawab, maka akan ada hukuman berupa berdiri di depan kelas, menyanyi, bahkan diberikan tugas khusus. Bersedia atau tidak, peserta didik akan belajar agar tidak mendapat hukuman. Tanpa disuruh belajarpun, mereka akan tetap belajar karena takut dihukum. Inilah teori behavioristik bahwa segala sesuatu harus dipaksakan. Pihak keluarga khususnya orang tua lebih memperhatikan anaknya, seorang anak dipaksakan untuk belajar. Jika tidak bersedia, maka uang jajan akan dikurangi. Dengan demikian, adanya paksaan-paksaan akan menjadikan suatu kebiasaan pada diri siswa.


Selasa, 02 April 2013

Kenaikan BBM yang Memberontak Rakyat

Sekarang ini saya kurang nyaman dengan adanya pemberitaan di media massa tentang kenaikan harga BBM. Di sini pemerintah seolah-olah tidak memikirkan kondisi ekonomi rakyat kecil. Terus terang saja sebagai rakyat kecil merasa keberatan atas hal itu. Memang kenaikan harga BBM akan membantu menyumbang pendapatan negara, tetapi sebagai rakyat kecil merasa kesusahan kalau semua bahan pokok dinaikan. Orang yang berduit setuju-setuju saja adanya kenaikan tersebut. Mereka mempunyai kekayaan yang bisa digunkan untuk membeli keperluan sehari-hari, sedangkan rakyat kecil mempunyai apa? Untuk makanpun susah.
Saya sebagai rakyat kecil berharap, jika pemerintah menaikan harga BBM, maka seharusnya bahan bakar minyak saja yang dinaikan. Jangan bahan pokok dan lainya juga turut dinaikan.
Kenaikan harga BBM yang terus-menerus tidak akan menjamin suksesnya perekonomian negara Indonesia. Menurut saya yang ada hanyalah terpuruknya perekonomian negara. Pemerintah kurang memperhatikan kondisi psikologis serta ekonomi rakyat kecil. Terbukti dengan mudahnya menaikkan harga BBM. Pemerintah seharusnya lebih bijaksana lagi dalam melakukan suatu tindakan khususnya dalam menaikan harga BBM. Misalnya jika harga BBM naik, maka bahan pokok jangan dinaikkan. Tujuannya agar rakyat kecil seperti saya tidak mengalami kesusahan akibat naiknya harga BBM.
Intan Suryana
Jalan Mayjen Panjaitan No.202 Malang

Pendidikan Sekolah Dasar Kandang Ayam di Sulawesi Selatan


Seperti yang kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia saat ini semakin memburuk. Salah satu faktor penyebab buruknya kualitas pendidikan yaitu lemahnya sistem pendidikan. Diantaranya mencakup kualitas guru, kualitas peserta didik, sarana dan prasarana, serta lingkungan yang tidak layak sebagai tempat menuntut ilmu. Misalnya, Sekolah Dasar Kandang Ayam di Sulawesi Selatan merupakan sebuah lembaga pendidikan yang sangat memprihatinkan. Pemerintah tidak mempedulikannya apalagi memberikan  santunan dana.
Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan, dan tinggi rendahnya kualitas suatu pendidikan salah satunya ditentukan oleh guru. Peranan seorang guru akan membawa pada suatu tanggung jawab untuk menjalankan profesi dengan sikap profesionalisme yang tinggi. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk mampu memberikan pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi juga harus mampu menanamkan suatu nilai-nilai pendidikan dengan cara guru sebagai modelnya. Ironis rasanya jika seorang pendidik ditempatkan pada salah satu sekolah terpencil yang disebut Sekolah Dasar Kandang Ayam karena bangunannya mirip dengan sebuah kandang ayam dan awal mula berdirinya memang sebuah tempat bekas kandang ayam. Kalau dipikir bagaimanakan seorang guru dapat menjalankan tugasnya dengan profesional kalau kondisi sekolah sebagai transformasi ilmu sangat memprihatinkan? Seorang guru akan merasa kesulitan menjalankan tanggung jawabnya kalau ditempatkan pada sekolah  tersebut. Semua serba terbatas dan tidak layak, tetapi sebagai seorang pendidik patut memperjuangkan dan mencerdaskan anak bangsa, tanpa memikirkan kesejahteraan dan kenikmatan dunia semata. Pemerintah tidak memperdulikan hal itu, tetapi alangkah baiknya seorang pendidik mempunyai kepedulian dan keikhlasan terhadap anak bangsa yang nasibnya kurang beruntung.
Peningkatan kualitas pendidikan pada Sekolah Dasar Kandang Ayam selain bergantung pada kualitas guru juga harus ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki sebagian besar sekolah di Indonesia khususnya Sekolah Dasar Kandang Ayam masih sangat tidak memadai. Padahal sarana dan prasarana merupakan hal vital dalam kegiatan proses belajar dan mengajar. Sekolah Dasar Kandang Ayam hanya memiliki rak buku kotor dan rapuh yang digunakan sebagai tempat meminjam buku alias perpustakaan. Bukunya sobek dan berdebu. Ruang kelas hanya terdiri dari dua buah ruangan yaitu satu ruang kantor dan satunya lagi ruang belajar siswa. Bangku dan meja terbatas, papan tulisnya kecil. Banggunannya terdiri dari kayu dan papan, beralaskan tanah, atapnya terbuat dari jerami yang sering bocor saat hujan turun. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai, pendidikan pada Sekolah Kandang Ayam akan sulit mengalami kemajuan.
Selain guru, sarana dan prasarana, kualitas pendidikan juga bergantung pada kualitas peserta didik dan lingkungan sekitar. Jika mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah, maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih, dan udara yang bersih, maka tingkat prestasi para siswa juga akan naik.
Namun, kondisi lingkungan pada Sekolah Dasar Kandang Ayam jauh dari itu. Di lingkungan sekitar masih berkeliaran ayam-ayam, sekelilingnya persawahan yang becek, bau kotoran ayam masih menyengat. Pada lingkungan seperti itu tidak menutup kemungkinan munculnya wabah penyakit yang menjadikan proses pembelajaran tidak berjalan secara maksimal. Selain itu, lingkungan yang kotor dapat menurunkan konsentrasi kerja otak sehingga prestasi belajar akan menurun juga. Lama-kelamaan siswa akan merasa bosan dan tidak nyaman dengan lingkungan sekolah yang dapat mengganggu kelancaran belajar siswa. Begitu pula dengan guru yang sedang mengajar pada saat itu akan merasa terganggu, sehinnga pelajaran yang disampaikan guru tidak akan maksimal. Siswa pun menjadi tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh guru. Dalam kondisi yang seperti ini, ada siswa yang malas sekolah karena merasa malu bersekolah di Sekolah Dasar Kandang Ayam. Ada pula yang mengeluh memiliki sekolah seperti itu. Ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib anak bangsa membuat para siswa, guru, di sekolah itu tetap harus menumbuhkan semangat yang tinggi pada dirinya dalam menempuh pendidikan yang tidak layak.
Masalah seperti ini tidak hanya di satu daerah saja, tetapi masih banyak lembaga pendidikan yang tidak layak di daerah-daerah terpencil yang tidak diperhatikan oleh pemerintah, yang hanya dibicarakan dan diberitakan melalui media elektronik ataupun media cetak. Tidak dapat dibayangkan pula betapa malangnya nasib anak didik bangsa kalau pimpinan negara tidak perduli dengan  lembaga pendidikan pada lingkugan yang tragis dan mengenaskan. Pemerintah khususnya presiden mempunyai kewenangan untuk mengatur kebijakan dalam menangani masalah di negara ini termasuk dalam dunia pendidikan. Pendidikan sangat mutlak dibutuhkan seseorang untuk mengubah masa depannya agar menjadi lebih baik, tetapi jika pendidikan formal ditempuh pada tempat yang kurang layak, maka sistem pendidikan tidak akan berjalan maksimal.
Jika saya menjadi seorang pendidik di Sekolah Dasar Kandang Ayam, maka saya dan pendidik yang lain akan mengusulkan beberapa proposal yang isinya meminta santunan dana dari pemerintah untuk menjadikan sekolah tersebut menjadi lebih baik. Kalau pemerintah tidak menanggapi hal itu, sebagai pendidik yang baik akan mencari alternatif lain agar sekolah tersebut menjadi layak untuk ditempati. Pendidikan tidak akan pernah maju tanpa adanya kerjasama antara guru, siswa, orang tua, dan pemerintah. Oleh karena itu, bagaimanapun caranya seorang guru dan orang tua mampu menyemangati anak didiknya untuk tetap semangat dan bertahan dalam kondisi yang tidak layak. Pemerintah seharusnya segera bertidak melihat malangnya nasib anak bangsa, bukan hanya berdiam diri padalah berita yang tersiar lembaga pendidikan mempunyai anggaran yang cukup untuk memperbaiki sekolah-sekolah yang tidak layak.
Selain itu, dapat pula mencari donatur-donatur yang bersedia membantu dari segi keuangan, material, dan mengajari anak didik membuka usaha kecil menggunakan sumber daya alam yang ada disekitar sebagai modal awal untuk memajukan sekolah. Misalnya dengan membuat kue-kue sederhana dari bahan singkong, ketela, yang mudah didapat di lingkungan sekitar kemudian menjualnya. Memang rasanya itu sangat sulit untuk dilakukan, dan keuntungan yang didapat pun tidak menjamin, tetapi dengan kebersamaan dan semangat yang tinggi saya yakin semua akan berjalan sesuai dengan harapan. Dengan demikian, adanya rintihan dan keluhan sedikit demi sedikit dapat teratasi dan tidak menimbulkan keprihatinan yang mendalam untuk peserta didik, guru, maupun sekelompok orang yang berkunjung pada sekolah tersebut.


I Am Not Stupid Too

Pada dasarnya pendidikan mutlak dibutuhkan manusia untuk pencapaian suatu tujuan yang diiginkannya. Dalam pencapaian tujuan tersebut manusia diharuskan menempuh suatu pendidikan baik secara formal maupun nonformal. Tanpa pendidikan manusia tidak dapat menggubah sikap dan tingkah laku dalam usaha mendewasakan dirinya sendiri, karena secara bahasa pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan tidak hanya diperoleh di lembaga formal saja, namun  pendidikan dapat diperoleh di mana saja, misalnya di lingkungan sekitar atau melalui media elektronik yang menayangkan perfilman yang bertemakan pendidikan sehingga patut dipelajari oleh seseorang. Nah, di dalam sebuah film yang berjudul “I Am Not Stupid Too”, pendidikan menurut saya sangat memprihatinkan yang dapat dilihat dari segi lembaga formal bahkah pada lingkungan keluarga peserta didik. Film tersebut menceritakan tentang cara mendidik pada lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga yang salah. Hal itu menyebabkan peserta didik menjadi seorang yang mengangap bahwa dirinya tidak berguna dan akhirnya menjadi seorang yang pemalas, suka melakukan sesuatu dengan seenaknya sendiri, bahkan sampai bergaul dengan kelompok brandalan yang membuat dirinya terlibat dalam peristiwa kriminalitas. Hal seperti itu seharusnya tidak perlu ada jika lembaga sekolah maupun lingkungan keluarga benar-benar memperhatikan kondisi psikologis seorang anak. Film tersebut telah jelas menayangkan bahwa ada dua keluarga yang mendidik buah hatinya dengan cara yang salah. Dilihat dari keluarga Tom dan Jerry yaitu mereka terlahir dari keluarga yang sangat kaya. Mereka hidup mewah dan seolah-olah tidak kurang suatu  apapun, tetapi kekayaan yang dimiliki orang tua Tom dan Jerry tidak menjamin sebuah pendidikan yang baik dan maksimal pada lingkungan keluarga tersebut. Tom dan Jerry memang berkecukupan dalam kesehariannya, namun menjadi seorang anak sangatlah membutuhkan kasih sayang, perhatian serta dukungan penuh dari kedua orang tuanya, tetapi Tom dan Jerry tidak memperolehnya. Segala sesuatu yang dilakukan Tom, selalu salah dimata kedua orang tuanya bahkan bakat yang dimiliki Tom tidak pernah dihiraukan, begitupun yang dirasakan oleh Jerry. Suatu ketika berada di ruang makan, ponsel si anak berdering, seketika itu sang ayah langsung menegur si anak jika sedang makan tidak boleh bermain-main dengan ponsel. Memang benar  hal sekecil itu perlu diajarkan pada anak, tetapi seharusnya sebagai orang tua menjadi contoh bagi anak-anaknya. Dalam film itu orang tua Tom dan Jerry melakukan hal yang sama yaitu bermain-main ponsel saat makan, entah itu penting maupun tidak. Seharusnya orang tua berprilaku adil dalam menegakkan peraturan di lingkungan keluarga. Meluangkan waktu sejenak untuk berada di rumah, itu sama halnya membuang waktu yang bernilai jutaan dollar. Kesibukan merintis karir antar keduanya menjadi suatu hal yang sangat diutamakan dari pada kondisi psokologis anak. Tom dan Jerry tidak dapat berkomunikasi dengan baik kepada orang tuanya karena alasan yang sama yaitu kesibukan. Mereka hanya dapat berkomunikasi melalui surat-surat sederhana atau tulisan kecil yang sengaja ditempel pada benda di ruang rumah, yang sekiranya tulisan tersebut dapat dibaca oleh orang tua mereka. Jika Tom dan Jerry mendapat suatu masalah, sebagai orang tua hanya bisa saling menyalahkan satu sama lain dan memarahi si anak tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan si anak. Dilihat dari lingkungan keluarga Chengcei, pendidikan sangatlah keras bahkan sungguh mengenaskan. Seorang ayah mengangap bahwa hanya dengan kekerasanlah yang bisa membuat seorang anak menjadi juara, pemikiran tersebut merupaksn sebuah pemikiran yang sempit. Dalam keluarga ini, sang ayah bisa dikatakan  memperhatikan anaknya, mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang ayah, tetapi semua itu dilakukannya dengan cara yang salah. Mendidik seorang anak dengan kekerasan itu akan membuat kondisi psikologis yang tidak baik, seorang anak akan tertekan dan membenci bahkan memusuhi sang ayah. Saya akui bahwa ayah Chengcei mantan narapidana, yang sejak kecil hidup dilingkungan yang keras, tetapi seharusnya dia tidak perlu menerapkan kehidupan yang penuh kekerasan pada sang anak. Begitu pula dengan lingkungan sekolah, telihat bahwa adanya pembeda antara kelas biasa dengan kelas unggulan. Siswa dari kelas bawah diperlakukan seenaknya oleh sang guru dan dianggap paling bodoh sampai terucap dua kata dari kutipan film “Apel busuk”. Sebagai seorang guru tidak patut melontarkan kata-kata seperti itu pada siswanya, hal itu akan memperburuk suasana. Siswa dari kelas unggulan mendapat perlakuan yang baik, seperti bonus nilai, bahkan hadiah akan diberikan pada siswa yang mendapat nilai baik serta adanya dukungan atau pujian yang akan membuat siswa rajin belajar. Sama-sama menjadi peserta didik seharusnya mendapat perlakuan yang sama oleh gurunya masing-masing tanpa adanya pembeda. Jika siswa melanggar aturan yang telah dibuat lembaga sekolah, maka patut hukuman itu dijalankan dengan semestinya, tetapi adanya hukuman fisik di depan umum, menurut saya tidak etis jika hukuman tersebut dilakukan. Selain menyiksa fisik siswa, hal itu akan membuat kontroversi dikalangan masyarakat. Adanya hukuman fisik tersebut tidak akan menjamin seorang siswa tidak akan melanggar peraturan sekolah. Kedisiplinan dalam lingkungan sekolah maupun keluarga memang perlu, tetapi harus melihat situasi dan kondisi. Bagaimana pendidikan bisa berjalan dengan baik, sesuai harapan bangsa dan negara jika lingkungan keluarga serta lembaga pendidikan peserta didik seperti itu? Siapa yang patut dipersalahkan dalam hal ini? Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan dikembalikannya pada diri kita masing-masing, jika kita merasa bahwa pendidiakn sangatlah penting, maka kita akan menempuh hal itu dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh, melihat situasi dan kondisi yang ada disekitar. Lingkungan keluarga khususnya peran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal ini. Orang tua sebisa mungkin memberikan fasilitas atau biaya, memberikan motivasi terbesar, mencurahkan kasih sayang serta perhatiannya pada sang anak, agar anak mampu memperoleh pendidikan. Selain itu peran sekolah sebagai lembaga pendidikan juga sangat penting yaitu ikut serta mengubah sikap dan tingkah laku peserta didik. Dalam hal ini harus ada kerja sama antara lingkungan keluarga, lembaga pendidikan serta peserta didik itu sendiri. Jika kedua belah pihak yaitu keluarga dan sekolah sudah berjalan, maka giliran peserta didik untuk membawa dirinya menjadi yang lebih baik dari sebelumnya dengan tidak melupakan agama sebagai pedoman hidup. Menjadi insan yang dapat membanggakan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara.

Kelemahan Penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam Bahasa Indonesia

Manusia merupakan makhluk sosial yaitu makhluk yang selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa itu sendiri terbagi menjadi tiga yaitu bahasa lisan, bahasa tulis dan bahasa tubuh. Hampir semua orang bisa berbahasa lisan dan  hanya sebagian saja yang tidak bisa karena keterbatasan alat bicara sehingga menggunakan isyarat yang sering disebut dengan bahasa tubuh. Sedangkan tidak semua orang bisa berbahasa tulis dengan baik dan benar sesuai dengan aturan dalam Bahasa Indonesia. Dalam berbahasa tulis yang baik dan benar akan senantiasa memperhatikan kaidah atau norma penulisan.
Dalam proses pembuatan sebuah tulisan, seseorang memerlukan teknik tersendiri agar tulisannya dapat diterima oleh kalangan masyarakat. Salah satunya adalah memperhatikan ejaan-ejaan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan di dalam Bahasa Indonesia. Kemampuan mengaplikasikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan syarat utama penulisan bahasa yang digunakan dalam sebuah tulisan. Misalnya dalam penulisan proposal, skripsi, tesis, desertasi dan karangan lainnya yang bersifat ilmiah sangat diperlukan penguasaan ejaan secara mendalam dan menyeluruh.
Problematika saat ini, banyak orang khususnya para pelajar atau mahasiswa yang tidak memperhatikan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam proses penulisan sebuah tulisan. Bahkan hal itu sering kali dianggap remeh sehingga ejaan dalam Bahasa Indonesia menjadi melemah. Kelemahan ejaan ini lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan para pelajar atau mahasiswa bahkan dikalangan guru atau dosen sekalipun. Di berbagai sekolah atau Universitas banyak ditemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan sebuah tulisan baik itu ilmiah maupun tidak. Para pelajar atau mahasiswa cenderung mengabaikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan lebih sering menulis dengan kaidah-kaidah penulisan yang salah. Misalnya dalam penggunaan tanda baca, pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan kata ganti dan lain sebagainya. Untuk itu seharusnya kita semua lebih mendalami pembelajaran dalam penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dengan cara memperhatikan kaidah-kaidah penulisan di dalam Bahasa Indonesia sehingga kelemahan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam Bahasa Indonesia dapat berkurang. Dalam artikel ini saya akan memaparkan sedikit tentang penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan kelemahannya dalam penulisan sebuah tulisan.
Tanda baca merupakan unsur yang penting dalam bahasa tulis. Tanda baca dapat membantu pembaca untuk dapat memahami jalan pikiran penulisannya. Jika tidak ada tanda baca maka kita akan sulit memahami sebuah tulisan. Pemakaian tanda baca meliputi tanda titik, tanda koma, tanda titik koma, tanda titik dua, tanda hubung, tanda pisah, tanda tanya, tanda seru, tanda petik dan lain sebagainya. Tanda-tanda tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam penggunaannya. Namun biasaanya para pelajar atau mahasiswa tidak menyadari bahwa penempatan tanda baca dalam sebuah tulisan sangatlah penting sehingga cenderung tidak teliti.
Pemakaian huruf khususnya huruf kapital dalam penulisan sebuah tulisan sering ditemukan kesalahan. Huruf kapital digunakan pada awal kalimat, huruf pertama kata yang berkenaan dengan agama, kitab suci dan nama Tuhan, huruf pertama petikan (kutipan) langsung, huruf pertama kata yang menyatakan gelar kehormatan, gelar keturunan yang diikuti dengan nama orang, huruf pertama nama jabatan atau pangkat  dan lain sebagainya. Para pelajar atau mahasiswa biasanya tidak menempatkan pemakaian huruf kapital sesuai dengan penggunaannya. Misalnya pada awal penulisan kalimat menggunakan huruf kecil, di tengah kalimat menggunakan huruf besar padahal bukan merupakan nama gelar atau kota.
Penulisan kata mencakup kata dasar, kata turunan, kata ulang, gabungan kata, kata berimbuhan, bentuk singkatan dan akronim. Penulisan kata dasar dihadapkan pada penulisan baku dan tidak baku. Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda (-). Misalnya kata ulang orang-orang tetapi kebanyakan para pelajar atau mahasiswa menuliskan kata ulang yang salah yaitu disingkat menjadi orang2. Hal itu menandakan bahwa mereka telah menyalahi aturan dalam penulisan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Penulisan kata ganti juga sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari. Kata ganti dalam Bahasa Indonesia, seperti aku, saya, kita, kamu, engkau, dia, beliau dan mereka ditulis lengkap dan dipisah tetapi kata ganti aku menjadi ku, kamu menjadi mu, dia menjadi nya harus dituliskan serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya kata buku dengan kata ganti mu ditulis menjadi buku mu hal itu merupakan penulisan yang salah. Penulisan yang benar yaitu kata buku dengan kata ganti mu seharusnya digabung.
Kesalahan-kesalahan seperti itu sering kali terjadi dalam Bahasa Indonesia. Seseorang tidak pernah menyadari bahwa kesalahan tersebut walaupun terlihat remeh tetapi sebenarnya sangat fatal. Seharusnya dalam penulisan sebuah tulisan atau karya tulis seseorang lebih memperhatikan penggunaan Ejaan Yang disempurnakan (EYD) agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan dalam bahasa penulisan. Selain itu seseorang harus menyadari betapa pentingnya mematuhi aturan atau kaidah-kaidah penulisan yang baik dan benar agar sebuah tulisan atau karya tulis dapat diterima oleh kalangan masyarakat dan dapat dijadikan sebuah contoh tulisan yang telah memenuhi aturan atau kaidah-kaidah penulisan didalam Bahasa Indonesia.

Senin, 01 April 2013

Pemerintah Kurang Tegas dalam Menegakkan Peraturan

SEJAK semula Jawa Pos mendukung adanya peraturan yang dibuat oleh lembaga pemerintah yang berwenang, tetapi kami menjadi bertanya-tanya ketika melihat peraturan yang telah dibuat pemerintah dan disahkan oleh presiden dilanggar sekalayak orang terutama seorang yang mempunyai jabatan penting dalam pemerintahan khususnya dunia politik. Bukan kali ini saja adanya peraturan yang tidak ditegakkan sesuai dengan semestinya, namun rasanya sangat ironis sebuah negara mempunyai banyak aturan yang dengan mudah bisa dilanggar.
Ketika dipersoalkan, film yang berjudul Ketika sangat berbeda sekali dengan kondisi negara Indonesia saat ini. Pihak-pihak yang bersangkutan merasa percaya diri bahwa apa yang mereka perbuat merupakan hal yang biasa. Walaupun kebanyakan peraturan berbentuk tertulis, tetapi mereka yang melanggar merasa tenang saja. Hukuman yang diberikan pada si pelanggar aturan bisa diatasi dengan uang, bisa dikatakan peraturan dapat dibeli dengan uang.
Peraturan yang tertulis saja bisa dengan mudah dilanggar apa lagi peraturan yang tidak tertulis. Namun apa iya semua peraturan di dunia ini harus tertulis agar manusia sadar akan pentingnya peraturan. Tidak mungkin, untuk membangun kemuliaan manusia, semua hubungan antarmanusia di dunia ini dimuat dalam aturan tertulis resmi. Sebagai contoh, adakah larangan menginjak rumput di Taman dalam aturan tertulis resmi? Tidak ada. Yang ada adalah anggapan umum yang menyebut tindakan itu hal yang biasa.
Begitulah, negara ini menyepelekan yang namanya peraturan. Padahal, semua negara yang maju dan sejahtera tegas dalam menegakkan peraturan, baik aturan tertulis resmi maupun tidak. Aturan hukum sangat tidak cukup untuk merangkumkan semua relasi antarmanusia, karena itu perlunya kesadaran dari semua pihak.
Seolah-olah kita adalah orang yang taat aturan, tetapi hal ini menunjukan adanya ketidaksesuaian antara lisan dengan kenyataan. Alangkah indahnya negara tercinta ini dapat menegakkan peraturan seperti yang ada di dalam film Ketika. Aturan yang ada di dalam film tersebut dilindungi oleh Undang-Undang. Misalnya saja menginjak rumput di Taman, menyeberang jalan secara tidak teratur, membuang sampah dan lain-lain.
Jika peraturan tersebut dilanggar, maka sebagai sanksinya mereka akan dijerat dengan Undang-Undang. Dengan demikian, masyarakat akan merasa takut dengan adanya penegakkan aturan yang sangat tegas. Tidak hanya itu, tetapi kedisiplinan aparat negara juga sangat dibutuhkan dalam hal ini untuk mengawasi sekeliling lokasi yang telah ditetapkan pemerintah. Tidak adanya keringanan atas pihak yang melanggar, semua berbalik pada jeratan Undang-Undang. Misalnya saja tidak ada penebusan atau penyogokkan atas aturan yang dilanggar pihak yang bersangkutan.
Seperti yang kita ketahui di media elektronik televisi, telah banyak anggota lembaga pemerintah yang telah melanggar aturan. Misalnya, hukuman akibat tindak korupsi yang jumlah korupsinya bermilyar-milyar dengan mudah mendapat jaminan keluar penjara dalam jangka waktu hanya satu tahun. Padahal kalau diperhitungkan kesalahan yang dilakukan tidak seimbang dengan sanksi yang diberikan.
Pihak-pihak yang melakukan kesalahan dapat diringankan dengan adanya kebijakan dari pemerintah pusat yang jelas sangat tidak etis, tidak pantas, dan tidak adil. Jika rakyat kecil ketahuan mencuri, maka hukuman yang diberikan lumayan berat. Misalnya hukuman penjara beberapa tahun dan dikenakan denda yang seimbang dengan kesalahannnya, tetapi jika para pejabat negara yang ketahuan menyelundupkan uang rakyat, maka hukuman yang diterima bisa dengan mudahnya dinegosiasi. Semestinya hukuman penjara bertahun-tahun, tetapi yang didapat hanya beberapa bulan, dan juga mendapat fasilitas di dalam sel tahanan yang mewah. Padahal di dalam Undang-Undang telah tertulis jelas adanya pasal-pasal dan sanksi yang harus diterima bagi pihak-pihak yang menyalahi aturan, tetapi pemerintah lebih tergiur dengan suapan.
Jika para pejabat selalu mendapat kebijakan dari pemerintah, maka buat apa Undang-Undang harus ada. Semestinya peraturan yang ada di dalam Undang-Undang ditegakkan dengan tegas oleh pemerintah pusat, sehingga tidak ada lagi kebijakan-kebijakan yang diperoleh bagi si pelanggar, entah itu rakyat kecil ataupun para pejabat. Selain itu, hendaknya lebih menanamkan kesadaran bahwa menaati peraturan sangat penting, baik aturan tertulis resmi ataupun tidak. Tanpa adanya kesadaran dan penegakan peraturan yang tegas, peraturan yang telah dibuat atau disepakati tidak ada pernah berjalan dengan baik.
Silahkan pemerintah memberikan kebijakan-kebijakan dan toleransi, tetapi disaat yang sama negara ini tidak akan pernah maju dan sejahtera dalam penegakkan peraturan.